Showing posts with label Blacan / Kucing Hutan. Show all posts

Saturday, December 15, 2012

Arti gerakan ekor kucing Blacan

Iis Nurliyah: Blacan / Kucing Hutan.
Arti gerakan ekor kucing Blacan
Berikut ini adalah kesimpulan yang saya ambil sendiri setelah cukup lama tinggal satu rumah dengan seekor kucing blacan. Saya terangkan sekali lagi bahwa ini adalah hasil pengamatan saya sendiri. Tidak ada manipulasi ataupun hasil penelitian secara resmi dari para ahli blacan sedunia ataupun para pihak pecinta blacan terkait. 
So jika ada yang tidak setuju dengan apa yang saya utarakan, saya minta maaf. Ini adalah sebuah opini publik, dan opini berbeda dengan ilmu pasti. Dan jika ada yang ingin menambahkan, saya akan sangat senang sekali menambahkannya di artikel ini.
Sejauh yang saya amati, ada beberapa gerakan khas yang ditunjukkan oleh ekor blacan. Dia cenderung akan mengibas-ngibaskan atau menggoyang-goyangkan ekornya ke kiri dan ke kanan ketika hatinya sedang bahagia. Saya perhatikan ketika saya mengajak blacan saya bermain kejar-kejaran, ekornya akan dikibas-kibaskan. Menurut saya itu pertanda kalau dia sedang senang.
Blacan akan menarik ekornya ke bawah, rapat menutup lubang anusnya, dan terlihat hampir menyelip diantara kedua kaki belakangnya ketika dia merasa terancam. Kesimpulan ini saya ambil karena saya sering melihat blacan saya melakukan itu ketika dirinya berhadapan dengan kucing kampung yang ukurannya lebih besar darinya yang sering masuk ke kost saya.
Ekor Blacan akan sedikit melengkung ke atas dengan indah ketika mood nya sedang santai. Saya sering mendapati kucing blacan saya yang baru bangun tidur di luar kost, ketika masuk ke kamar kost ekornya terlihat terangkat dan melengkung ke atas dengan indah. Gerakannya terlihat anggun, dan ekspresinya tenang, tidak takut, tidak pula lemas.
Nah, demikian yang bisa saya simpulkan dari pengamatan saya terhadap blacan betina saya yang saya beri nama Aya.  Suatu saat jika saya berhasil mengambil gambarnya, saya akan masukkan ke artikel ini sebagai pelengkapnya. Kurang lebihnya saya mohon disempurnakan.
Monday, November 12, 2012

Sepertinya Kucing Blacan gue udah punya ikatan batin sama gue...

Iis Nurliyah: Blacan / Kucing Hutan.
gambar kucing blacan gue lagi galau
Hari Sabtu Sore, gue mesti mudik karena temen gue ada yang ngajakin maen ke Gunung Kidul (Rencananya sih gitu, tapi jadinya malahan ke Kolam Renang Arta Tirta). Nah karena kemaren waktu gue bawa pulang, turun dari kendaraan kucing gue jalannya miring-miring terus seharian, gue kasihan. makanya mudik gue kali ini kucing Blacan kesayangan gue nggak gue bawa sekalian.
Hari Senin malem gue balik ke Jogja. Gue buka pintu kamar, ternyata kamar gue udah kayak kandang kucing beneran, baunya minta ampun. Gue pel, kemudian gue semprot-semprot pake parfum ruangan buat nyamarin bau.
Abis itu temen gue bilang, dari siang kucing Blacan gue belum dibeliin makan, terus gue kasih dia makan jangkrik yang gue bawain dari rumah. Biasanya dia bakal makan lahap. Tapi, nggak tau kenapa si Aya, Blacan gue, nggak mau makan. Dia malah ngeloyor ke luar kost.
Gue panggil-panggil biasanya nyamper, tapi kali ini nggak. Gue cari-cari di luar ternyata dia lagi tiduran galau di atas bantal di deket kamar mandi kost. Gue bawa masuk, keluar lagi, bawa masuk lagi, keluar lagi. Ya udah, gue bela-belain beli lele goreng jam 10.45 malem. Untung warung penyetan belum punah sepenuhnya. Masih ada satu yang tersisa.
Namun, ternyata si Blacan tetep nggak mau makan lele yang gue beliin. Gue jadi was-was, jangan jangan dia sakit, takut mati lagi kayak kucing Persia gue. Nyampe jam setengah 12-an malem dia masih belum mau masuk kost. Gue samperin, gue usap-usap, kepalanya, terus gue bilang "Sorry yak, gue udah ninggalin lu sendirian 2 hari, besok kalo gue mudik, lu gue bawa dah..." Trus gue angkat bawa masuk kost. Nyampe dalem, si Aya mau tiduran di kasur deket gue, tapi tetep nggak mau makan nyampe pagi.
Paginya si Aya udah mau makan kayak biasa lagi, tapi pas gue kunci di kamar karena gue mau buang air kecil dulu, dia merengekrengek. Gue cuek aja. Tapi pas gue keluar dari toilet gue takjub, si Aya udah ada di depan pintu, jalannya agak pincangan. Ternyata dia lompat dari jendela yang tingginya hampir 1 meter, padahal umurnya baru 3,5 bulan, seharusnya kakinya belum cukup kuat. Trus si Aya gue ajak jalan-jalan pagi, ma main-main sebentar.
Dari sini gue jadi berpikir, apa kucing Blacan itu beda sama kucing hias kayak Anggora ato Persia yak???
Dari kebiasaannya emang beda sih. Blacan lebih mirip anjing dari pada kucing. Dia senang diajak bermain, kalo lagi seneng ekornya dikibas-kibas, sukanya jilatin tangan gue, dan kalo gue keluar hobinya ngikutin gue.
Apa mungkin kucing Blacan juga punya ikatan batin dengan majikannya kayak anjing??? Pikir gue.  Ah, itu masih belum teruji ilmiah. Mungkin cuma kebetulan aja kucing Blacan gue kayak gini. kalo ada temen-temen yang punya pengalaman serupa kayak gue dengan kucing Blacan kalian, boleh komen tuh... ^_^
Friday, November 9, 2012

Kucing Blacan, alternatif bagi yang ingin pelihara kucing Bengal tetapi nggak punya duit...

Iis Nurliyah: Blacan / Kucing Hutan.
Anakan Kucing Blacan
Blacan memiliki motif bulu yang sangat mirip dengan kucing Bengal, dan kucing Savannah. Hanya saja ukuran tubuh serta emosi yang dimiliki oleh kucing Blacan masih liar. Namun dengan memelihara Blacan sejak kecil dan tidak memberinya makan daging mentah lama - kelamaan sifat liarnya ini akan berkurang.
Bagi saya sendiri, memelihara kucing Bengal adalah sebuah impian. Namun karena harganya yang sangat mahal bagi saya (seekor anakan Bengal harganya sekitar 10 jutaan rupiah), maka saya putuskan untuk memelihara kucing hutan atau biasa kita kenal sebagai kucing Blacan. Toh kucing Bengal juga merupakan hasil persilangan dari kucing Blacan dengan American Shorthair.
Pada awalnya, saya sedikit kerepotan memelihara Blacan karena dia tidak mau makan cat food. Sehingga mau tidak mau setiap hari saya harus membelikannya satu ekor lele goreng yang gorengannya tidak terlalu kering hingga usia 3 bulan. Sebagai seorang anak kosan, ini jelas cukup menguras dompet saya. Dan terus terang saya tidak memberinya susu, padahal pada usia itu seharusnya dia masih menyusu.
Namun, setelah memelihara Blacan, ternyata ada tantangan tersendiri. Kucing Blacan sangat aktif tidak seperti kucing Persia yang dulu pernah saya pelihara yang kerjanya cuma makan dan tidur. Blacan cenderung sangat senang bermain. Namun, caranya bermain memang sedikit kasar, jadi jangan sampai anda salah mengartikan "permainannya" tersebut sebagai sebuah agresi.
Memang sih banyak kendala dalam memelihara Blacan, seperti dia sering pipis sembarangan. Susah ngelatih dia biar buang air besarnya nggak sembarangan. Dan karena dia nokturnal yang aktif di malam hari (pada kenyataannya siang malam Blacan saya selalu aktif nggak keruan) kalau malam sebaiknya dia dikandang, karena kalau tidak, dia akan mengganggu anda dengan lompat kesana kemari.
Namun ternyata waktu saya selidiki, perbedaan antara Bengal dengan Blacan hanyalah terletak pada ukuran, dan sifat liarnya saja. Ukuran Blacan hanya sebesar kucing domestik, tidak seperti Savanah dan Bengal yang ukurannya bisa segede anjing. Untuk karakteristik, Bengal dan Blacan sama - sama kucing yang sangat aktif. Dengan kata lain, menurut saya Blacan merupakan alternatif terbaik bagi yang ingin memelihara kucing Bengal tetapi terkendala masalah biaya.
O iya, Blacan saya saat ini berumur sekitar 3,5 bulan, dan sangat aktif. Penampilannyapun semakin mirip dengan Bengal, cuman warna bulunya sedikit kekuningan. Kemanapun saya pergi maunya ikut saja, bahkan waktu saya mandi pun dia ikut masuk kamar mandi.
Aya, kucing Blacan kesayangan saya

Kucing Blacan imut

Sunday, October 28, 2012

Blacan peliharaanku suka makan jangkrik...

Iis Nurliyah: Blacan / Kucing Hutan.

Blacan peliharaanku suka makan jangkrik
Beberapa hari yang lalu saya sempat dibuat khawatir oleh blacan peliharaan saya. Pasalnya seharian dia tidak mau makan lele yang sebelumnya menjadi satu-satunya makanan yang mau dia makan. Blacan saya baru berumur 2,5 bulan, sehingga belum banyak jenis makanan yang dia mau makan.
Nah, seharian nggak makan, blacan saya yang tadinya aktif sekali, lompat kesana kemari, menjadi tiduran terus kerjanya. Badannya menjadi sangat lemah. Bahkan untuk berdiri dan berjalan saja jalannya goyah. Namun, tetap saja dia tidak mau makan daging lele yang saya kasih. 
Hingga akhirnya disuatu malam seekor anak jangkrik lewat melintas di depannya. Dengan penuh semangat si blacan mengejarnya dan memakannya dengan lahap. Sebenarnya saya sedikit khawatir jika blacan saya asal makan, karena sebelumnya anakan kucing persiaku mati karena makan kecoa. Namun saya biarkan saja si blacan makan jangkrik. Saya cuma mengamati apa yang terjadi hingga beberapa jam kemudian. Ternyata tidak terjadi apa-apa.
Lalu saya teringat akan sebuah artikel yang pernah saya baca di internet jika serangga merupakan salah satu makanan kucing hutan / blacan. Akhirnya saya putuskan untuk membelikan kucing blacan saya jangkrik yang biasa buat makanan burung. Tadinya saya ragu, apakah jangkrik sebanyak 2000 rupiah yang saya beli akan dimakan oleh blacan saya yang saya kasih nama "Aya" karena betina. Ternyata jangkrik yang saya beli habis seketika.
Kucing blacan saya sangat senang makan jangkrik. Dia terlihat sangat senang ketika mengejar jangkrik dan melahapnya dengan rakus, seolah dia merasa kalau dirinya sudah menjadi seekor kucing hutan pemburu sejati. Dan akhirnya sampai saat ini, jangkrik saya jadikan sebagai salah satu menu makan favorit blacan kesayangan saya. Semakin hari dia semakin sehat dan "nakal" kembali. Rasanya lega sekarang. ^_^

Thursday, October 11, 2012

Kucing Hutan / Blacan

Iis Nurliyah: Blacan / Kucing Hutan.
Kucing Hutan / Blacan
Blacan atau dikenal juga dengan berbagai nama daerah seperti meong congkok, macan akar, macan rembah, macan rembang, atau mungkin masih ada yang lainnya merupakan ras kucing hutan yang saat ini termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia.
Dalam bahasa Inggris, kucing liar ini disebut Asian Leopard Cats atau biasa di singkat ALC karena corak bulunya yang menyerupai macan tutul. Kucing hutan ini masuk dalam genus Prionailurus dan spesies Prionailurus Bengalensis (P.B). Terdapat 3 jenis kucing hutan yang hidup di Indonesia yaitu sub spesies P.B Javanensis penyebarannya di jawa-Bali, P.B Sumatranus di Sumatra, dan P.B Borneoensis di Kalimantan.
Kucing ini termasuk hewan yang aktif di malam hari (nocturnal) untuk mencari buruan. Makanan kucing hutan ini berupa hewan-hewan kecil seperti tikus, kelinci, burung, serangga, dan amphibi. Kucing ini memiliki kemampuan memanjat yang sangat hebat. Selain itu, kucing ini juga dapat berenang.
Ukuran tubuh kucing hutan kurang lebih sama dengan ukuran kucing domestik. Yang membedakan kucing hutan dengan kucing domestik dalam penampilannya adalah corak bulu dan warnanya. Untuk blacan yang berkembang di Indonesia cenderung berwarna dasar kuning kecokelatan dengan belang-belang hitam dari kepala hingga tengkuk. Sedangkan corak bulu pada bagian tubuh biasanya tutul tutul kayak macan tutul..
Oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), Blacan dimasukan ke dalam Apendiks II kecuali untuk Blacan/kucing hutan yang berkembang di Bangladesh, India dan Thailand yang dimasukkan dalam daftar Apendiks I. 
Dan oleh IUCN ( International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources.) Red List, Blacan dimasukan ke dalam status konservasi Least Concern (Resiko Rendah) kecuali untuk subspesies P. b. iriomotensis yang berstatuskan Endangered (Terancam).
Meskipun kucing ini merupakan hewan yang dilindungi, ternyata di sebuah situs online saya dapati orang yang jual kucing hutan. Harga kucing hutan yang dibanderol adalah 300 ribuan.


Referensi : blacan-ibk.forumq.net dan flora-faunaindonesia.blogspot.com